BPPP AertembagaDukung Program Marine Protected Area (MPA)

06 Agustus 2012

Upaya konservasi perairan di Indonesia tumbuh selaras dengan pembangunan nasional di bidang konservasi sumberdaya ikan, tuntutan masyarakat pesisir serta perkembangan konservasi dunia yang berwawasan global.  Keseriusan dunia tentang masalah konservasi dapat dilihat dari kegiatan penanganan isu pemanasan global lewat kegiatan seperti World Ocean Conference (WOC), Coral Triangel Initiatif (CTI Summit) dan lain sebagainya.

Kesadaran  konservasi di Indonesia telah ada sejak lama, lewat kearifan lokal yang ada dibeberapa daerah seperti Sasi di Maluku, Panglima Laut di Aceh, Mane’e di sulawesi Utara.  Kementerian Kelautan dan Perikanan telah meluncurkan program  tentang Kawasan Konservasi Perairan (Marine Protected Area),Kamis (5/7/2012)di Jakarta. Dalam program tersebut pengembangan kawasan konservasi selain untuk menjaga kelestarian sumberdaya kelautan dan perikanan juga diarahkan untuk mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi baru yang dilakukan melalui pendekatan ekonomi biru. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menargetkan kawasan konservasi laut di Indonesia luasnya Sebesar 20 juta hektar sampai tahun 2020. Hingga pertengahan tahun 2012, Indonesia telah menetapkan kawasan konservasi laut sebesar 15,5juta hektar atau 77,5 persen dari luas kawasan konservasi laut  yang telah ditargetkan.

Pengertian Kawasan konservasi Perairan adalah kawasan perairan yang dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi, untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan. Dalam rangka mendukung program ini, BPPP Aertembaga melaksanakan Pelatihan Dasar MPA (Marine Protected Area) bagi Aparatur daerah (Penyuluh dan Petugas Teknis)  yang memiliki kawasan konservasi.  Pelatihan  berlangsung selama 7 (tujuh) hari kalender terhitung dari tanggal4 s.d 10 Juli 2012, acara ini dibuka oleh Kepala Balai Diklat Perikanan Aertembaga, dan dihadiri oleh Kepala Pelabuhan Samudera Bitung, Kepala Pangkalan Pengawasan SumberDaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kota Bitung Serta Para Pelatih dari Conservation International dan MitraBahari Sulawesi Selatan. 

Dalam sambutan Kepala Balai disampaikan bahwakeberhasilan pengelolaan kawasan konservasi di daerah sangat ditentukan oleh   SDM Aparatur Kelautan Perikanan yang merupakan salah satu factor penentu selain keterlibatan masyarakat setempat. Kegiatan Pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan dan sikap, serta menyiapkan SDM Aparatur yang handal di bidang konservasi perairan laut sesuai dengan amanat Undang-undang konservasi perairan laut di  Indonesia. Disampaikan juga bahwa berbicara tetang konservasi bukan hal baru namun bagi banyak orang mengangap hal ini adalah program yang lagi menjadi perhatian masyarakat dunia termasuk Indonesia dalam rangka mengelola sumberdaya perairan secara berkelanjutan.

Diakhir sambutan nya kepala Balai Diklat Perikanan Aertembaga menyampaikan harapannya agar kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mendukung Program Kawasan Konservasi Perairan di Kementerian Kelautan dan Perikanan sehingga apa yang didapat benar- benar bisa diterapkan di daerah masing-masing untuk mengsinergiskan dengan program-program konservasi yang ada. Partisipasi para peserta sangat tinggi selama pelatihan berlangsung, dari setiap sesi pembelajaran selalu mendapatkan respon yang cukup baik dari peserta.   Sistem atau metode pembelajaran tidak hanya di dalam kelas, namun juga terjadi di luar kelas. Untuk memberikan pengalaman nyata dalam proses pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, dilakukan  kegiatan Field Trip ke Taman Nasional Bunaken. Kegiatan kunjungan lapangan ini sangat membuka wawasan para peserta terlebih lagi selain melihat langsung kawasan konservasi yang ada, juga dilakukan wawancarfa dengan pengelola kawasan konservasi. Pada akhir pelatihan peserta sangat antusias untuk menerapkan hasil pelatihan di kawasan konservasi yang ada di daerah mereka dan berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan kawasan konservasi perairan.


Humas BPPP Aertembaga